Minggu, 09 Oktober 2011

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)


J
akarta, 03 Oktober  2011, pada pertemuan kemarin di Ruang 306 Gedung Daksinapati UNJ, Pak Amril Muhammad menerangkan penjelasan mengenai Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Mengapa Manajemen Berbasis Sekolah sangat diperlukan? Menurut penjelasan Pak Amril kemarin, ada beberapa latar belakang yang membuat Manajemen Berbasis Sekolah sangat diperlukan saat ini. Seperti yang sudah kita ketahui program peningkatan mutu pendidikan telah dilaksanakan selama enam pelita dengan investasi cukup besar, namun mutu pendidikan tersebut masih rendah. ”Hal ini dilihat dari index human development yang menunjukan bahwa mutu pendidikan Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya seperti Malaysia dan Vietnam”, ungkap Pak Amril. Sangat disayangkan memang, mengingat zaman awal kemerdekaan Indonesia banyak mengirim tenaga pendidik untuk Malaysia, namun justru saat ini mutu pendidikan di Negara kita yang tertinggal oleh Negara serumpun tersebut. Selain itu, sekolah lebih tahu kelebihan, kelemahan, dan kebutuhan sendiri.  Pengataman terhadap sekolah bermutu dan sekolah yang turun mutunya. Selama ini pemerintah menganggap pembinaan bersifat ‘input oriented’. Regulasi birokrasi terhadap penyelenggaraan pendidikan terlalu ketat. Partisipasi masyarakat belum optimal dan hasil studi tentang ‘effective schools’. Hal – hal tersebut merupakan latar belakang mengapa perlu diadakannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

Selanjutnya kebijakan Manajemen Sentralistik yang berdampak pada sikap dan perilaku sekolah. Pertama, sekolah hanya mengikuti peraturan, tunggu petunjuk, dan cenderung pasif. Kedua, inisiatif dan kreatifitas kurang berkembang. Ketiga, kurangnya tanggung jawab dan cenderung lempar tanggung jawab keatas. Keempat, bersifat birokratif hanya meniru praktek dari atas. Lalu bersifat mekanistis, repetitive, semangat bekerja kurang (kurangnya motivasi karena tidak ada kompetensi). Terakhir, aspirasi kurang direspon oleh sekolah (ide pembaharuan, budaya, spiritual, dan social ekonomi).

Karateristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) meliputi kemandirian, pendayagunaan sumber, pendayagunaan masyarakat, transparansi, dan akuntabilitas. Kemandirian maksudnya sekolah sudah dianggap dewasa dan mampu bertanggung jawab. Pendyagunaan sumber maksudnya dapat memanfaatkan segala sumber apapun yang tersedia. Transparansi maksudnya setiap kegiatan yang dilakukan harus didasarkan pada asas kejujuran. Lalu akuntabilitas yakni kemampuan atau hasil harus sesuai dengan yang diharapkan. 

Esensi umum Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yaitu adanya ‘framework’ (kerangka acuan) nasional yang bersifat desentralisasi pelimpahan mandate dari pusat ke daerah. Ada ‘national lines’ (garis besar pedoman nasional). Tidak terjadi perbedaan yang mencolok antara sekolah – sekolah negeri dengan sekolah – sekolah swasta. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) tidak dengan sendirinya (otomatis) maningkatkan mutu pendidikan, secara harfiah sebagai devolusi kewenangan dari pusat ke sekolah tidak disertai kesadaran akan mutu pendidikan, hingga diperlukan manajemen mutu pada tingkat sekolah dengan strategi ‘effective schools’.

Ciri – ciri Sekolah Efektif (Effective schools) pertama lingkungan tertib dan aman. Kedua, mempunyai visi, misi, dan target yang jelas. Lalu kepemimpinan yang kuat, pengembangan staff, tingkat harapan yang tinggi, evaluasi untuk perbaikan PBM, adanya partisipasi orangtua dan masyarakat dalam segala kegiatan sekolah, dan terakhir ada komitmen bersama dalam meningkatkan mutu. Ciri – ciri ini hanya mungkin segera dilakukan secara optimal melalui Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)/ School-Based Management (SBM). Langkah yang dilakukan dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yaitu evaluasi diri (self-assessment), perumusan visi, misi, dan target mutu yang jelas, perencanaan program kegiatan, pelaksanaan program kegiatan, monitoring dan evaluasi program, dan terakhir penetapan target mutu baru. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) juga memerlukan pengontrolan yang berupa Transparansi manajemen sekolah, Akuntabilitas, Benchmarking (evaluasi internal atau eksternal). Jika hal – hal diatas dijalankan dengan baik oleh sebuah sekolah maka bukan hal yang tidak mungkin jika mutu pendidikan Indonesia akan semakin membaik kedepannya.(Muhammad Ikhzaruddin)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar